Negara di Tengah Kota: Politik Representasi dan Simbolisme Perkotaan (Surabaya 1930-1960) Sarkawi B. Husain

ISBN:

Published: 2011

Paperback

205 pages


Description

Negara di Tengah Kota: Politik Representasi dan Simbolisme Perkotaan (Surabaya 1930-1960)  by  Sarkawi B. Husain

Negara di Tengah Kota: Politik Representasi dan Simbolisme Perkotaan (Surabaya 1930-1960) by Sarkawi B. Husain
2011 | Paperback | PDF, EPUB, FB2, DjVu, AUDIO, mp3, ZIP | 205 pages | ISBN: | 7.78 Mb

Simbol kota selalu menjadi perbincangan menarik. Kehadirannya tidak hanya menjadi aksesori untuk mempercantik sebuah kota, tetapi lebih dari itu, simbol kota telah menjadi media untuk merepresentasi sebuah kekuasaan. Oleh karena itu, buku iniMoreSimbol kota selalu menjadi perbincangan menarik. Kehadirannya tidak hanya menjadi aksesori untuk mempercantik sebuah kota, tetapi lebih dari itu, simbol kota telah menjadi media untuk merepresentasi sebuah kekuasaan.

Oleh karena itu, buku ini mengungkapkan apa, mengapa, dan bagaimana simbol-simbol kota di SUrabaya berubah seiring dengan perubahan kekuasaan, khusunya dalam periode 1930-1960.Sejarah simbolisme Surabaya, baik yang berasal dari sesuatu yang sebelumnya sudah ada maupun yang direkonstruksi, dapat dibagi dalam empat periode: periode kolonial Belanda, pendudukan Jepang, Orde Lama, dan Orde Baru dan saat ini sebuah tahapan baru tengah berlangsung.

Tiap-tiap periode berusaha membangun kenagan kolektif, tetapi ketika periode tersebut berakhir, periode berikutnya akan berusaha menghapus ingatan kolektif, tetapi ketika periode tersebut berakhir, periode berikutnya akan berusaha menghapus ingatan kolektif itu dan membangun sebuah ingatan kolektif baru.Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika beberapa monumen dan patung yang dibangun oleh pemerintah Belanda saat ini tidak ditemukan lagi jejaknya.

Demikian pula dengan nama-nama jalan yang berbahasa Belanda, seperti Coen Boulevard, Altingsstraat, Speelmanstraat, Daendelsstraat, dan lain-lain tidak ditemukan lagi saat ini. Setelah proklamasi kemerdekaan, nama-nama jalan yang diambil dari nama-nama gubernur jendral tersebut dihapus dan diganti dengan nama-nama pahlawan nasional dan pahlawan lokal Surabaya.

Coen Boulevard diubah menjadi Jalan Raya Dr. Sutomo, Altingsstraat menjadi Jalan Trunojoyo, Speelmanstraat menjadi Jalan M.H. Thamrin, Daendelsstraat menjadi Jalan Imam Bonjol, dan Jalan van Heutz diubah menjadi nama jalan musuhnya, Teuku Umar.Selain perubahan nama jalan, monumen, tugu, patung, lambang kota, masjid, gereja, klenteng, dan makam Tionghoa adalah simbol-simbol kota yang dipilih sebagai produk kajian yang menjeleskan pada kita siapa, bagaimana, dan dengan mekanisme apa kota ini dikendalikan, terutama dalam periode 1930-an hingga 1960-an.



Enter the sum





Related Archive Books



Related Books


Comments

Comments for "Negara di Tengah Kota: Politik Representasi dan Simbolisme Perkotaan (Surabaya 1930-1960)":


tikurila.pl

©2009-2015 | DMCA | Contact us